Cerpen Hakikat Sejati Dari Rasa Sayang


Hakikat Sejati Dari Rasa Sayang

Iko menatap tajam ke arah jam yang berada di ruang tamu, menunggu waktu yang masih menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit agar segera berganti menjadi pukul delapan malam. Iko melakukan hal itu karena panggilan jiwa untuk melestarikan kebudayaan ranah Jawa sebagai pemain “Jaranan” atau yang biasa dikenal secara umum sebagai “Kesenian Tari Kuda Lumping”. Ia menunggu temannya yang hendak melakukan pentas seni Jaranan karena kali ini Iko juga ikut berpartisipasi dalam pentas tersebut. Karena ini adalah penampilan pertamanya, Iko terlihat sangat bahagia hingga dapat dilihat dengan sangat mudah melalui polah tingkahnya yang seolah seperti seseorang yang hendak berkencan. Ibu Iko yang membawa sapu dari gang rumah tampaknya hendak menyapu teras depan rumah. 

Melihat tingkah laku Iko yang tampak sangat bahagia, Ibu Friko pun bertanya padanya “Ko...Iko kenapa? Kok kelihatannya seneng banget? Kayak baru dapet pacar baru aja!”. Iko pun menoleh pada Ibunya, “Nggak kok Bu, nggak apa-apa”, Iko tak berani mengatakan bahwa Ia hendak tampil dalam pentas kesenian jaranan karena kedua orang tua Iko tidak suka jika Iko melihat pertunjukan jaranan, apalagi menjadi bagian darinya. Ibu Iko kemudian menimpal jawaban Iko “Kamu mau nonton jaranan ya? Nggak boleh!”, jawabnya dengan nada membentak “Pokoknya kamu harus jauh-jauh dari hal-hal yang berbau jaranan” tambahnya. Iko mengerutkan dahinya sambil mengatakan “Nggak kok Bu, Iko nggak mau nonton jaranan”.”Beneran? Awas loh ya kalau kamu bohong!”, Ibu Iko masih terlihat tak percaya akan perkataan yang diucapkan oleh putra semata wayangnya itu. Iko pun menghela nafas panjang “Iya bu...beneran, Iko nggak bohong”. Iko kemudian menambahkan “Iko nanti mau paket malam di warnet, boleh kan Bu?”, (dengan ekspresi penuh warna). “Yaudah kalo gitu, nggak apa-apa” Ibu Iko kemudian melanjutkan membersihkan teras. 

Iko masih menunggu dengan menatap tanpa henti ke arah jam yang baginya seolah tak bergerak sedetik pun tersebut. Ia pun memukul-mukul kursi ruang tamu yang penuh lubang itu. Entah mungkin karena terlalu bosan menunggu, Iko pun ketiduran di atas kursi tamu yang panjang tersebut. Tiba-tiba seorang teman Iko memanggil Iko dari luar “Ko...Friko...kamu jadi ikut nggak?”. Iko segera terbangun dan langsung menjawab “Ya....tunggu bentar!” Iko yang masih mengantuk langsung keluar sambil sentoyoran bak orang mabuk. Ristom pun tersenyum dan mengatakan “Astagfirullah, katanya mau ikut malah tidur”. Iko dengan spontan menjawab “Sttt... jangan keras-keras, nanti kalau ditanya ibuku bilang aja mau PM di warnet” jawab Iko menggunakan nada pelan. Ristom pun kemudian hanya memberikan gestur oke dengan lingkaran dan tiga jari. “Aku mau cuci muka dulu, tunggu sebentar!” seru Iko yang kemudian langsung masuk ke dalam rumah. 

Ibu Friko yang melihat Ristom dari dapur kemudian mendatanginya, kemudian menyapa hangat Ristom yang merupakan teman main sehari-hari Iko “Eh Ristom...mau kemana? Kok pakai jaket dan rapi banget?”, Ibu Iko bertanya demikian karena Iko dan Ristom yang notabene masih duduk di bangku kelas empat SD. Ristom masih ingat pesan dari Iko, kemudian ia pun menjawab “Mau paket malam di warnet desa sebelah, Bi”, jawabnya dengan canggung karena tak pernah bicara dengan Ibunya Friko. “Owh...ya sudah kalo gitu, kirain Iko bohong” balas Ibu Iko yang terlihat lebih lega, kemudian masuk ke dalam rumah lewat gang. Iko kemudian berpapasan dengan Ibunya di sana saat hendak mengambil sendal. “Loh...Ko, kok nggak pakai jaket? Diluar dingin loh.” Tutur Ibunya yang tampak agak cemas pada Iko. “Oh iya, hampir kelupaan” Iko pun langsung mengambil jaket yang berada di lemari pakaian gantung. Tanpa tunggu lama lagi, Iko kemudian langsung berpamitan ke Ibunya yang tengah menikmati semangkuk kolak ketela. “Bu, Iko pamit dulu ya”, sambil menyalimi ibumya. “Iya, hati-hati loh ya!”, jawab Ibu Iko sambil mengunyah ubi jalar yang ada di dalam kolak.

Friko dan Ristom kemudian pergi bersama menuju ke rumah Pak Tomo, pemilik komunitas jaranan yang ada di desa sebelah menggunakan sepeda dengan berboncengan. Iko dan Ristom mengobrol asyik tanpa henti selama perjalanan menuju kediaman Pak Tomo. Setelah mengayuh sepeda sejauh kurang lebih tiga kilometer, merekapun akhirnya sampai di sana. Tampak banyak para pemuda yang telah bersiap di atas mobil pick-up, termasuk teman-teman Friko yang akan tampil bersama dengan peran sebagai “kuda lumping cilik”, yaitu Devin,Ivan, dan Mada. Ivan kemudian berseru kepada Iko dan Ristom “Oyy...buruan naik, setengah jam lagi tampil nih!”. Iko kemudian menjawabnya dengan penuh semangat “Iya, tungguin Aku”, kemudian Iko memarkirkan sepeda Ristom di depan gudang Pak Tomo dan bergegas naik keatas mobil pick-up bersama Ristom. 

Mobil pun dihidupkan, Iko menggigit bibir bawahnya dengan semangat seperti orang yang hendak menikah. Sementara itu, teman-teman Iko juga tampak sangat bersemangat, walau tak berapi-api seperti Iko. Mobil pick-up kemudian meluncur ke rumah orang yang menyewa jasa pertunjukan jaranan ini, lokasinya berada sekitar satu kilometer dari rumah Pak Tomo. Sesampainya di sana, Iko dan kawan-kawan disuruh menuju ruang ganti untuk dirias dan memakai kostum. Periasnya tak lain dan tak bukan adalah istri Pak Tomo, yaitu Bu Umayah. Satu persatu anggota diberikan kostum masing-masing sesuai dengan peran mereka. Sebelum diberi make up, mereka disuruh mengenakan kostum terlebih dahulu, agar tatanannya nanti tidak rusak. Karena Iko belum pernah memakai kostum jaranan, ia pun dipasangkan kostum oleh seorang pemain yang berperan sebagai bantengan, yaitu Mas Robi. Tak seperti teman-teman Iko yang sudah bisa memakai kostum mereka sendiri, ia mau tidak mau harus didandanii oleh orang yang lebih berpengalaman. 

Setelah memakai kostum masing-masing, tiba saatnya untuk merias para pemain jaranan tersebut. Satu persatu teman Iko dirias, tak terkecuali Ristom dan Friko. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tiba giliran Iko untuk dirias, Iko terlihat malu-malu kucing ketika di make up, terlebih ketika memakai lipstik untuk pertama kalinya. Bu Umayah bilang pada Iko “Kenapa kok kelihatan malu-malu kucing, Ko?” sambil tersenyum tatkala sedang memerahkan bibir Iko dengan lipstik. Iko tidak menjawabnya sama sekali, melainkan hanya menutup matanya rapat-rapat dan memberikan senyuman kecil. Bu Umayah kemudian geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Iko yang seperti itu. 

Setelah selesai dirias, tiba saatnya untuk penampilan mereka. Terlihat Pak Tomo yang sedang berdoa kepada para leluhur dengan membakar kemenyan di depan panggung. Iko terlihat makin tidak sabar untuk segera menampilkan hasil latihannya selama dua minggu belakangan. Iko bersama Ristom, Devin, dan Mada akan melakukan penampilan pembuka sebagai jaranan cilik, sedangkan Ivan akan bermain bersama orang-orang dewasa karena memiliki peran sebagai “pentulan” yaitu penari yang mengenakan topeng merah dengan hidung panjang, gigi runcing yang menjorok keluar dan rambut dari ekor kuda yang berantakan. 

Terdengar suara cambukan sebanyak tiga kali, yang berarti saatnya Iko dan teman-temannya untuk menampilkan performa mereka. Sebenarnya ada rasa was-was di hati Iko, rasa takut jika orang tua Iko mengetahui anaknya yang dilarang keras untuk mengenal kesenian jaranan, malah menjadi bagian darinya. Iko sebenarnya tahu jika orang tuanya tidak mungkin menonton pertunjukan ini, tapi bukan tidak mungkin kerabat orang tua Iko mengetahui hal ini dan memberitahukannya kepada orang tua Iko. Namun walaupun demikian, passion Friko terhadap budaya jaranan tetap tidak bisa dipatahkan begitu saja. Sekarang bukanlah waktunya untuk mengeluh bagi Iko, sekarang adalah waktunya untuk menunjukkan seperti apa Iko yang sebenarnya.

Iko melirik keluar jalan, terlihat banyak sekali orang yang menonton, tapi sepertinya tidak ada satupun yang dikenal ataupun mengenal Iko. Karena cambuk sudah dibunyikan oleh Pak Tomo, sekarang waktunya untuk Iko dan teman-temannya untuk menari bersama sebagai penari kuda lumping. Mereka keluar dari ruang ganti satu persatu, diawali oleh Ristom, Mada, disusul oleh Devin dan barulah Friko masuk terakhir. Setelah mereka semua keluar, merekapun segera membentuk formasi seperti ketika berlatih di sanggar. 

Gerakan demi gerakan mereka lakukan sesuai dengan irama gamelan tanpa sedikitpun kesalahan terjadi. Mereka menari layaknya pengiring para pejuang perang pada zaman dahulu. Karena tampil tanpa menggunakan alas kaki dan berada di jalan makadam, Iko yang tidak terbiasa menapak langsung ke tanah sesekali tampak menahan rasa sakit ketika menginjak batu. Sementara teman-temannya tampak biasa saja akan hal itu, mereka terlihat sangat menikmati alunan musik gamelan yang mengiringi tarian mereka. Walaupun Iko terlihat agak kesakitan, namun ia tetap kompak menari menggunakan baju warna merah muda yang tampak licin itu. Semakin lama menari, Iko makin percaya diri, karena ia yakin tidak ada seorang pun yang mengenalnya, ditambah dengan riasan yang sangat mengubah penampilannya sehingga ia makin sulit untuk dikenali. Mereka beruntung karena malam ini tidak hujan sedikit pun, karena sekarang sedang musim hujan dan sering kali turun ketika malam hari. Setelah menari selama kurang lebih delapan menit, berakhirlah penampilan mereka tanpa ada momen spesial “ndadi”, yaitu momen ketika pemain jaranan dirasuki oleh roh para leluhur dan melakukan hal-hal yang tidak biasa.

Selesai menampilkan kebolehan mereka di hadapan para penonton, mereka berempat segera masuk kembali ke ruang ganti. Iko merasa sangat bahagia karena bisa memenuhi cita-citanya sebagai pemain jaranan walaupun tidak dibayar sepeserpun. “Tom, Vin, Da, seru banget ya tadi pas bisa tampil di sana!”, seru Iko pada teman-temannya ketika hendak berganti pakaian. Devin yang masih duduk melepas penat dan keringat menjawb kalimat Iko “Ciyee, yang baru ngerasain jadi penerus budaya”. “Biasa lah, namanya juga pemula”, sahut Ristom dengan nada yang terdengar menyindir sembari melepaskan kancing bajunya. “Hehe”, balas Iko yang kemudian menggaruk-garuk kepalanya, sementara Mada hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala mendengarkan perbincangan kecil itu. 

Setelah mereka semua berganti pakaian, mereka tidak diizinkan untuk langsung pulang, karena selain waktunya sudah malam, mereka juga tidak punya kendaraan. Jadi mau tidak mau mereka berempat harus menunggu acara ini selesai terlebih dulu. Satu demi satu penampilan para anggota telah usai, dan sekarang adalah puncak dari acara, yaitu ketika para pemain dimasukkan roh halus oleh Pak Tomo yang berperan sebagai Bopo dari acara ini. Tidak terduga, Ivan ternyata ikut serta dalam bagian ini, padahal ia masih kelas dua sekolah dasar. Ivan bermain bersama dengan orang-orang dewasa, hingga memasuki kondisi “Ndadi”. Ivan dipegang kepalanya oleh Pak Tomo, kemudian ditiup keningnya. Tiba-tiba saja tingkah laku Ivan berubah 180 derajat, ia tampak seperti tidak memiliki kesadaran lagi. Ivan memakan bunga kenanga, namun tidak seperti manusia yang memakannya, karena cara mengunyahnya seperti asal gigit saja. 

Iko yang melihat Ivan melakukan hal tersebut hanya bisa terdiam. Ia tampak sangat penasaran akan seperti apa rasanya kehilangan kesadaran dan diambil alih oleh roh halus. Sementara Ristom dan Devin tidak merasa aneh sedikit pun, karena mereka sudah terbiasa melihat Ivan melakukan hal demikian dan tidak pula ingin untuk merasakannya. Saat memasuki bagian akhir pertunjukan, Mada tampak sudah tertidur pulas sampai acara berakhir. Selesai acara pertunjukan, para anggota jaranan yang ikut ndadi kemudian disembuhkan, lalu kembali ke rumah Pak Tomo kemudian pulang ke rumah masing-masing. 

Setelah hari itu, tak terhitung lagi jumlah penampilan Iko bersama komunitas jaranan Pak Tomo yang diberi nama “Utama Putra” hingga ia kelas lima sekolah dasar. Iko sangat tergila-gila terhadap jaranan, sampai-sampai di setiap buku yang Iko miliki pasti ia beri nama “Friko Rengga Yofi Krisnanda (Utama Putra jaranan community). Karena di setiap bukunya diberi tulisan maupun gambar jaranan yang sangat banyak, wali kelas Iko ingin bertanya pada Iko. “Friko Rengga!”, seru Bu Isla dari meja guru. “Iya Bu!” sahut Iko yang tadinya sedang berbincang dengan temannya. “Kamu ke sini sebentar”, Iko langsung berjalan menghampiri Bu Isla. “Ada apa bu?”, tanya Iko yang terlihat gugup. “Kamu suka sama jaranan ya?”, jawab Bu Isla sambil meletakkan pena. Iko dengan semangat menjawabnya “Iya Bu, saya juga jadi anggota pertunjukan jaranan”. Bu Isla menganggukkan kepalanya, “Oh, begitu” “Sudah berapa lama kamu jadi pemain jaranan?”, tambahnya. Iko kemudian menjawab pertanyaan tersebut “Sudah dari dulu Bu, dari kelas dua awal”, jawab Iko dengan nada yang tampak membanggakan diri. “Bu Isla tahu dari mana kalau saya pemain jaranan?”, tambahnya. “Soalnya banyak sekali di buku kamu tulisan “Utama Putra jaranan community”, bahkan di setiap buku yang kamu kumpulkan”, jawab Bu Isla sambil menunjukkan buku Iko. “Memang gimana ceritanya kok kamu bisa gabung sama komunitas jaranan?” tambah Bu Isla. “Hehe...Saya gabung komunitas itu bareng sama temen dusun saya yang sekolah di madrasah, Bu”, jawab Iko sambil menggaruk-garuk kepala. “Ooh...pantesan, soalnya di sekolah ini kan nggak ada yang ikut begituan”, sambil memberikan buku Iko. Iko pun dipersilahkan untuk duduk kembali ke bangkunya. Teman-teman Iko kemudian bertanya tentang apa yang dibicarakan olehnya dan Bu Isla, namun Iko menolak untuk menjawabnya. Teman-temannya memaksa, tetapi Iko tetap tak mau memberikan jawaban pasal apa yang terjadi didepan. 

Waktu demi waktu berlalu, Iko sekarang sudah hendak lulus dari sekolah dasar. Ketika ibu Iko mengambil nilai rapornya, ia diberitahu oleh Bu Isla yang masih menjadi wali kelas Iko. “Anaknya Ibu pintar sekali, Friko lulus dengan mendapatkan rangking pertama”, ia kemudian menambahkan “Sudah pintar, bisa melestarikan budaya Tanah Jawa lagi!”, seru Bu Isla memuji kelebihan Friko. Ibu Iko pun keheranan “Maksudnya apa ya Bu? Kok melestarikan budaya Tanah Jawa?”, ucapnya dengan penuh tanya. Bu Isla ikut heran “Loh, kan Friko ikut kelompok pertunjukan jaranan, memangnya Ibu nggak tau?”. “Memang Anda tahu dari mana Bu, kalau anak saya ikut begituan?”, tanya Ibu Iko yang terlihat agak menahan emosi. “Friko sendiri yang bilang Bu”, Bu Isla kemudian menambahkan “Friko bilang kalau dia ikut komunitas pertunjukan jaranan sejak kelas dua bareng sama temannya. Bahkan disetiap bukunya ada tulisan 'Utama Putra jaranan community' setelah namanya”. “Owh, yaudah Bu, saya pamit dulu”, Ibu Iko mengambil rapor Friko dan pergi meninggalkan ruangan. 

Karena penasaran dan tahu kalau Utama Putra adalah milik Pak Tomo, Ibu Iko kemudian mendatangi rumah Pak Tomo dan bertanya pasal Iko yang menjadi anggota pertunjukan jaranan benar atau tidak. Benar saja, ternyata yang dikatakan oleh wali kelas Iko ternyata tidak salah sedikitpun. Ibu Iko juga diberitahu bahwa Iko dulu mendaftar menjadi anggota jaranan sejak empat tahun lalu bersama Ristom dan masih sering tampil hingga sekarang. Emosi Ibu Iko memuncak, ia tidak tahu-menahu apapun tentang hal ini selama lebih dari empat tahun. Ibu Friko kemudian pulang ke rumah dengan raut wajah yang teramat sangat marah. Ia kemudian memberitahukan hal ini pada Ayahnya Iko, ia pun ikut tersulut api amarahnya, mengetahui bahwa anaknya yang dilarang keras untuk mengenal jaranan, justru ikut ambil bagian dari itu. Kedua orangtua Iko sekarang menunggu kepulangannya, ia hendak diberi pelajaran oleh ayahnya. 

Tak lama berselang, Iko kemudian pulang ke rumah, terlihat ayahnya sedang duduk di kursi ruang tamu menunggu kedatangan Iko. “Dari mana aja kamu?”, tanya ayah Iko dengan nada membentak keras. Ibu Iko kemudian menghampiri Ayah Iko dan berdiri di sebelahnya. “Aku dari rumahnya Ristom, emangnya ada apa, Yah?”, tanya Iko sambil menelan ludah karena gugup. “Ada apa ada apa, kamu ini kok gak ada rasa bersalah sama sekali pada orangtua!”, jawab Ayah Iko sambil mengerutkan dahi. Karena ketakutan, Iko kemudian bertanya pada Ibunya “Nilai Iko tadi gimana Bu? Bagus nggak?”, Iko berkata demikian karena tidak tahu apa yang salah. “Halah, nggak usah mengalihkan tema, kamu selama ini ikut komunitas jaranan Utama Putra, kan?”, sahut ibunya. Iko menjadi sangat ketakutan, detak jantungnya menjadi tak teratur, keringat mengucur deras membasahi tubuhnya. Iko tidak tahu harus mengatakan apa lagi, pikirannya sudah buntu. Ia kemudian menjawab dengan sisa kesadaran yang ia miliki “Aku nggak ikut! komunitas apapun, beneran”, jawab Iko dengan tergagap-gagap. Ayah Iko kemudian menghampiri Iko, ia melepaskan sendalnya yang keras dan memukulkannya pada paha Friko. “Kenapa gak mau ngaku?”, Iko dipukul lagi. “Ha?”,lagi-lagi sendal itu dipukulkan. 

Mata Iko mulai tampak berkaca-kaca, namun ia tak tahu harus berbuat apa lagi, ia kemudian jongkok dan menutupi wajahnya dengan kedua lengannya.. Namun Ayah Iko tak berhenti memukuli Iko, dari punggung, paha, betis, tangan, hingga telinga Iko semuanya memar bahkan berdarah. Karena tidak kuat lagi menahan rasa sakit, Iko langsung berlari menuju kamarnya dan mengunci pintunya secepat mungkin. Karena luka memar hampir ada di sekujur tubuh, dan tidak ada yang bisa membelanya, tak ada hal lain yang lebih baik selain daripada tidur sembari merasakan sakitnya luka yang Iko rasakan. Iko tidak punya pilihan apalagi tempat pelarian, ia hanya bisa pasrah akan apa yang akan terjadi kedepannya.

Senja pun tiba, Iko mulai merasa kelaparan, namun tak ada yang bisa dimakan di kamar Iko. Ia hanya bisa menunggu tengah malam datang, berharap orangtuanya tertidur agar Iko bisa mengendap-endap untuk mencari makanan di dapur. Iko menunggu dan terus menunggu, hingga akhirnya, malam pun tiba, saatnya untuk eksekusi. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Iko melirik lewat lubang pintu kamarnya, lampu sudah dimatikan pertanda jika semua sudah tidur. Kunci pintu dibuka sangat perlahan-lahan agar tidak tidak terlalu berisik. Pintu pun ia buka dan Iko segera menuju dapur dengan berjinjit dan tidak mengenakan sendal agar tidak bersuara sedikitpun. Karena lampu dapur setiap malam tidak dimatikan, Iko bisa dengan mudah menuju kesana untuk mencari makanan. Di dapur, Iko hanya mendapati sedikit nasi dan kerupuk saja, jadi mau tidak mau itulah yang akan ia makan. Agar tidak berisik ketika makan, Iko memilih untuk menggunakan mangkuk dan sendok plastik. Iko mengambil nasi, kemudian bergegas makan secepat mungkin karena sudah sangat kelaparan. Iko sempat berpikir untuk mandi, namun hal itu akan menghasilkan bunyi yang keras, akhirnya Iko memutuskan untuk menyeka tubuhnya saja agar tidak bau keringat dan lengket. Setelah itu semua, Iko kemudian kembali ke kamarnya untuk tidur, tak lupa Iko menguncinya agar merasa lebih aman. 

Hari pun berganti, ketika Ayah Iko pergi bekerja, ia masih berada di dalam kamar hingga jam delapan. Ibu Friko memanggilnya untuk makan, namun Iko masih ragu untuk pergi keluar kamar. Hingga waktu menunjukkan pukul setengah sebelas, Iko baru memberanikan diri untuk keluar. Setelah keluar, Iko bergegas menuju dapur untuk mengambil makanan, terlihat ibunya yang sedang bersih-bersih di dapur dan Iko kemudian disuruh untuk segera makan. Langsung saja Iko mengambil piring dan makan dengan lahap. Namun ketika ada Ayah Iko di rumah, Iko tidak berani keluar sedetikpun, kejadian ini berlangsung selama tiga hari. 

Waktu berlalu dan Iko sekarang berada di bangku SMP, ia tidak lagi menjadi pemain jaranan, namun secara diam-diam Iko mulai mengoleksi topeng pentulan dan juga kepala bantengan. Iko menyembunyikan koleksi jaranan tersebut di bawah kasurnya, dan hanya dikeluarkan sesekali ketika Iko benar-benar ingin memakainya ataupun sekedar menyentuh-nyentuhnya saja. Karena ia meletakkan koleksinya di dalam kamar, Iko tidak pernah membiarkan kamarnya dalam kondisi tidak terkunci, sekalipun itu hanya untuk buang air kecil. Iko menjadi anak yang benar-benar pendiam setelah kejadian waktu itu, ia bahkan tidak pernah lagi berinteraksi lisan dengan siapapun, termasuk kedua orangtuanya. 

Tidak seperti anak pada umumnya, Iko tampaknya sangat depresi setelah dimarahi habis-habisan oleh ayah dan ibunya. Pembicaraan yang masih dilakukan oleh Iko biasanya hanya untuk meminta uang sekolah dan uang saku saja. Itupun Iko hanya bilang nominalnya saja, tidak ada kata lebih yang keluar dari mulut Iko. Ketika berada di rumah, hal yang biasanya Friko lakukan ketika di rumah hanyalah membaca, bersih-bersih kamarnya, dan sesekali memainkan koleksi jaranannya. Orangtua Iko tampaknya sangat menyesal telah memperlakukan Iko dengan buruk saat itu, sehingga membuat Iko justru menjadi seperti ini. Mereka memiliki anak, namun tidak ada lagi rasa seperti memiliki anak terhadap Friko. Hal itu tidak ada bedanya dengan orang asing yang hanya menginap di rumah, namun memiliki status sebagai anak. Namun bagaimanapun, mereka berdua tetap tidak menginginkan Iko untuk mencium sedikit tentang jaranan. Mereka hanya ingin anaknya bisa menghindari jaranan karena trauma mereka berdua terhadap hal tersebut. Namun Iko justru tidak bisa menjauh sejengkalpun dari hal-hal yang berkaitan dengan jaranan.

Tak hanya diterapkan kepada keluarganya, sifat yang sangat tertutup Iko juga ia lakukan pada seluruh orang di sekitarnya, termasuk rekan-rekan kelasnya hingga gurunya. Iko tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun sejak ia masuk SMP, ia hanya bicara ketika ada tugas yang mengharuskannya untuk bicara. Selain itu, Iko hanya diam sambil membaca buku setiap waktu, di kelas, perpustakaan, kantin, dan ketika dia menyendiri di belakang sekolah ketika jam kosong. Iko memang menjadi anak paling berprestasi di sekolahnya, namun karena sikapnya yang tidak pernah terbuka pada siapapun, alhasil ia selalu menjadi objek bullying oleh teman-teman sekelasnya. Iko juga sudah beberapa kali dipanggil BK karena sikapnya yang sangat acuh tak acuh pada lingkungan, akan tetapi guru BK justru tidak bisa menghadapi sikap Iko yang bahkan tidak menggubris sedikitpun ketika diajak bicara. 

Tidak ada lagi orang yang dapat Iko pedulikan, ia sekarang hanya peduli dengan dirinya sendiri dan tujuan hidupnya yang selalu Iko rencanakan dengan sempurna. Iko berencana untuk kabur dari rumah dan pergi hidup merantau, itulah rencana yang sedang dipersiapkan oleh Iko. Ia tak kuat lagi menghadapi tekanan terhadap kebebasan yang dilakukan oleh orangtuanya, Iko sebenarnya hanya ingin bisa melestarikan budaya Tanah Jawa yang semakin luntur seiring berjalannya waktu. Namun apalah daya Iko, tak ada yang bisa ia lakukan, karena itulah Iko ingin pergi meninggalkan kedua orangtuanya dan melanjutkan hidup sebagai pelestari kesenian jaranan. Saat ini Friko sedang mencari-cari momen yang tepat agar bisa kabur dari rumah tanpa diketahui oleh siapapun. Hingga tibalah saat itu, kedua orangtua Iko pergi bersama tetangganya untuk melakukan perjalanan ke makam para wali. Meskipun Iko masih duduk di bangku SMP kelas tujuh, bukan berarti dia tidak bisa hidup sendiri di jalanan. Ia sangat yakin jika usahanya tidak akan pernah mengingkari hasil, mengejar cita-cita masa kecil yang sempat terlupakan menjadi tujuan Iko saat ini. Iko tidak mungkin pamit pada orangtuanya, karena itu Iko hanya meninggalkan sepucuk surat yang ia letakkan di meja ruang tamu. 

Surat itu berisi tulisan tangan Friko yang ditulisnya dengan sepenuh hati, surat itu bertuliskan “Untuk Ayah dan Ibu Iko yang sebenarnya Iko sayangi. Yah,Bu, jangan pernah coba untuk mencari Iko, Iko sekarang akan mengadu nasib Iko dengan seluruh tenaga yang Iko miliki. Iko ingin mengejar impian Iko yang Ayah dan Ibu batasi, Iko ingin menjadi penerus budaya suku kita. Untuk Ibu jaga kesehatan baik-baik ya, soalnya Iko tiap malam dengar Ibu selalu batuk bekali-kali. Dan untuk Ayah, maaf Iko nggak bisa jadi anak seperti yang Ayah harapkan, inilah tujuan hidup Iko, tujuan yang selama ini ingin berontak namun selalu Iko tahan. Oh iya, Ayah jangan lupa bayar hutangnya ke Pak Margono, soalnya tadi siang dicariin. Yang terpenting Iko cuma kepengen Ayah dan Ibu tidak memikirkan Iko, karena itu justru Akan menjadi beban tersendiri bagi Iko untuk mengejar cita cita Iko. Iko sebenarnya pengen banget ngobrol asyik sama Ayah dan Ibu sampai bisa tertawa lepas seperti dulu, tapi apalah daya Iko yang tak sanggup lagi untuk melakukan itu. Iko jangan dicari Yah, Bu, soalnya semakin Iko dicari, Iko bakal semakin jauh dari kalian berdua. Iko senang banget bisa jadi anak dari Ayah dan Ibu, tapi pas Iko nggak ada di rumah nanti, jangan besedih apalagi berantem ya. Ini bukan salah Ayah dan Ibu kok, ini memang Iko sendiri yang ingin pergi dan merantau di kota. Selamat tinggal Yah, Bu, Iko akan selalu mendoakan kalian berdua setiap hari, kalaupun tidak bisa setidaknya Iko akan doakan setiap minggu. Ayah dan Ibu jangan lupa doain Iko juga ya. Penuh cinta dan kasih sayang kalian, Iko. Tambahan, Iko tinggalin uang buat Ibu dan Ayah, nggak banyak sih, tapi semoga aja berguna :)”. Surat itu ditulis dengan indah oleh Iko, dan dibaca oleh orangtua Iko dua hari kemudian. Mereka sangat bersedih karena anak mereka satu-satunya pergi meninggalkan mereka tanpa sempat bertatap muka sedikitpun, anak mereka pergi ketika mereka masih marah, itulah yang membuat mereka berdua bersedih. 

Hari pertama Iko hidup merantau tidaklah semudah yang Iko bayangkan sebelumnya, hanya berbekal uang duaratus ribu rupiah, tentu sangat sulit untuk digunakan selama beberapa hari. Iko pergi merantau ke Kabupaten Nganjuk, karena di sanalah terdapat organisasi jaranan yang sangat terkenal di Jawa Timur, organisasi itu dinamai “Legowo Putro”. Karena Iko tidak tahu seluk-beluk daerah Nganjuk, ia harus bertanya-tanya pada siapapun yang Iko temui untuk kemudian ditanyai dimanakah lokasi organisasi jaranan “Legowo Putro”. Namun karena sudah lama tidak pernah bicara pada orang asing, Iko jadi tampak sangat canggung ketika hendak bertanya arah jalan pada warga setempat. Setelah berjalan seharian, perut Iko mulai memberontak, tapi karena harus bisa memanfaatkan uang sebaik mungkin, Iko tidak berani membeli makanan di tempat yang tampak bagus. 

Setelah mengisi perutnya, Iko kemudian melanjutkan perjalanan untuk mencari organisasi yang diinginkan oleh Iko untuk bisa bergabung bersama. Usaha Iko akhirnya membuahkan hasil, Iko kemudian bertemu dengan ketua dari “Legowo Putro”, Pak Rosyid namanya. Tanpa tunggu lama, Iko langsung segera mendaftarkan dirinya untuk menjadi bagian dari organisasi impian Iko tersebut. Semuanya berjalan lancar tanpa kendala seperti yang Iko sudah rencanakan, Iko diterima bergabung dan diizinkan untuk tinggal bersama dengan anggota lain yang hampir senasib dengan Iko di asrama. Sebelumnya Iko hampir ditolak karena sudah tidak adanya perlengkapan jaranan yang tidak terpakai, tapi Iko sangat beruntung karena ia membawa topeng pentulan miliknya, jadi Iko bisa menggunakan topeng itu untuk tampil di pertunjukan. Setiap hari Iko berlatih dan juga bekerja sebagai pembantu Pak Rosyid, hal ini Iko lakukan agar tetap bisa mendapatkan makan gratis sembari menekuni hobinya. Dari organisasi ini Iko menjadi sosok yang seperti ia inginkan, selain itu Iko juga dibayar setiap kali tampil di pertunjukan. Memang tidak banyak, tapi itu sudah lebih dari cukup bagi Iko. 

Hari silih berganti, dan sekarang sudah genap duapuluh tahun sejak Iko kabur dari rumahnya. Iko belum pernah sekalipun pulang ke kampung halamannya sekalipun sejak saat itu. Iko sekarang sudah menjadi sosok yang berhasil, ia telah mendirikan sebuah organisasi jaranan sendiri yang Iko namai dengan “Ringgo Budoyo”. Iko bahkan sekarang sudah punya seorang istri dan anak yang ia nafkahi dari hasil penampilan organisasinya. Suatu ketika, terbesit di benak Iko untuk pulang ke kampung halamannya dan bertemu kedua orangtuanya. Iko ingin memberikan hadiah yang sangat indah untuk mereka berdua, Iko ingin memberikan hasil jerih payah yang selama ini Iko lakukan. 

Iko ingin melihat senyum di wajah mereka berdua, senyum yang telah lama tak pernah Iko lihat. Iko sudah sangat rindu pada mereka berdua, rindu akan suara merdu ibunya yang membangunkan Iko dengan lembut, suara ibunya yang memanggil-manggil Iko ketika masakan sudah mata, ajakan ibunya untuk membuat kue bersama. Iko rindu akan aroma Ayahnya, aroma khas dari keringat yang melekat kuat pada jaketnya, Iko rindu ketika dulu sering diajak memancing di sungai bersama setelah hujan deras terjadi. Iko rindu waktu ketika mereka bertiga menonton televisi bersama, ketika mereka tertawa bersama, ketika tidak ada sekat diantara mereka. Dan masih banyak lagi hal yang Iko rindukan yang tidak bisa ditemukan ditempat lain dipenjuru dunia. Di kampung halaman tempat Iko dibesarkan bersama dengan teman-teman. Akhirnya Iko pun memutuskan untuk pergi menjenguk kedua orangtuanya di kampung halaman. Iko mempersiapkan segala hal yang akan dihadiahkan untuk kedua orangtuanya, dan setelah semua dirasa cukup, Iko segera berangkat menuju kesana. Iko berangkat bersama istri dan kedua anaknya menggunakan mobil yang merupakan salah satu hasil keringat Iko.

Iko sebenarnya sudah agak lupa jalan menuju ke rumah orangtuanya, hal itu karena hampir semuanya sekarang sudah berubah 180 derajat. Alhasil, dengan ingatan seadanya Iko pergi kesana dengan penuh harapan untuk bisa bertemu dengan orang yang Iko rindukan. Setelah melakukan perjalanan seharian yang membuat Iko sangat kelelahan, akhirnya Iko sampai di tugu masuk desanya. Hati Iko semakin tidak sabar ingin melihat reaksi kedua orangtuanya ketika melihat Iko yang sekarang. Mobil Iko terhenti karena jalan menuju rumah orang tuanya sekarang menjadi sempit hingga tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Karena jaraknya sudah dekat, tanpa pikir panjang lagi Iko segera berjalan kaki menuju rumah yang dulu pernah ia tinggali. Iko tiba-tiba menjadi bingung, rumah tempat ia dibesarkan dahulu, sekarang hanya tersisa pondasi yang berlumut saja. 

Melihat seseorang pria yang lewat di depannya, Iko kemudian bertanya pada pria itu “Pak, Pak, rumah yang ada disini dulu kok nggak ada ya?”, tanya Iko dengan agak panik. Pria itupun menjawab “Bapak nya siapa ya? Friko?”, tanya balik pria itu yang tak lain adalah Ristom. Iko kemudian bertanya lagi “Kok Bapak bisa tahu? Bapak ini sebenarnya siapa?”. “Ini aku, Ristom!”, jawab Ristom sambil menghisap asap rokoknya. “Ristom, eh, sekarang dimana kedua orangtuaku?”, tanya Iko dengan agak lega. “Ikut aku!”, Ristom kemudian mengajak Iko ke sebuah jalan kecil, jalan itu tidak lain adalah jalan menuju makam. 

Keringat dingin Iko mulai mengalir “Apa maksudnya?”, tanya Iko yang mulai emosi. Ristom kemudian menggandeng tangan Iko dan mengarahkannya ke dua buah makam usang yang berdekatan. “Rumahmu terbakar sekitar duapuluh tahun lalu, dan orangtuamu tak bisa diselamatkan dari kejadian itu, maaf”, Ristom sambil menundukkan kepalanya. Iko terdiam seribu kata, air matanya mengalir deras tak terbendung setelah Ristom mengucapkan kalimat yang amat sangat menghancurkan jiwanya tersebut. Kaki Iko langsung tak punya tenaga lagi untuk berdiri, ia hanya bisa menangis sambil mengelus-elus batu nisan yang sudah hampir dimakan tanah dan lumut itu. Iko tidak pernah menduga akan kehilangan orangtuanya sebelum Iko sempat membahagiakannya.

0 Response to "Cerpen Hakikat Sejati Dari Rasa Sayang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel